Tweet

Selasa, 24 Desember 2013

Natal

sal-mula peringatan Natal
Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah
Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah
menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh
gereja awal. Klemens dari Aleksandria mengejek orang-orang yang
berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.
Dalam abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota
jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak
mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya –
terutama oleh Origenes – dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir:
orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari
ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang
Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.
Tetapi di sebelah Timur orang telah sejak dahulu memikirkan
mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia. Menurut tulisan-
tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan "pesta
Epifania " (pesta Pemunculan Tuhan) pada tanggal 4 Januari .
Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania
ialah munculnya Yesus sebagai Anak Allah – yaitu pada waktu Ia
dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan bukan saja
menganggap baptisan Yesus sebagai Epifania, tetapi terutama
kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini, Gereja Timur
merayakan pesta Epifania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta
kelahiran dan pesta baptisan Yesus.
Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari
malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah
yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian.
Ephraim dari Syria menganggap Epifania sebagai pesta yang
paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epifania ialah malam
yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau
tidur pada malam, ketika seluruh dunia sedang berjaga jaga?”
Pada malam perayaan Epifania, semua gedung gereja dihiasi
dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan
gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.
Sejarah
Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di
Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei
tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain
perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari; ada pula pada
bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai
pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima
secara luas pada abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan
dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember. Dewasa ini
umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember
adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen
terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan),
dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya
Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78;
Kidung Agung 6:10 ).
Tanggal
Yusuf, Maria, dan bayi Yesus
Ada pendapat yang berkata bahwa tanggal 25 Desember bukanlah
tanggal hari kelahiran Yesus. [ rujukan?] Pendapat ini diperkuat
berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala
masih menjaga dombanya di padang rumput. ( Lukas 2:8 ). Pada
bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga
domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada
saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh
lagi. Para pendukung tanggal kelahiran bulan Desember
berpendapat meski musim dingin, domba-domba tetap tinggal di
kandangnya di padang rumput dan tetap dijaga oleh gembala, dan
meski tidak ada rumput, padang rumput tetaplah disebut padang
rumput.
Ada juga pendapat yang berkata bahwa perayaan Natal bersumber
dari tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian
Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan
puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin ( winter
solstice ) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender
Julian . Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan
tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang
Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan
tradisi mereka sendiri, atas dorongan dari kaisar Kristen pertama
Romawi , Konstantin I , Paus Julius I memutuskan pada tahun 350
bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama.
Namun pandangan ini disanggah oleh Gereja Ritus Timur , karena
Gereja Ritus Timur sudah merayakan kelahiran Yesus sejak abad
ke-2, sebelum Gereja di Roma menyatakan perayaan Natal pada
tanggal 25 Desember.
Oleh karena itu, ada beberapa aliran Kristen yang tidak merayakan
tradisi Natal karena dianggap berasal dari tradisi kafir Romawi,
yaitu aliran Gereja Yesus Sejati , Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh , Gereja Baptis Hari Ketujuh, Perserikatan Gereja Tuhan,
kaum Yahudi Mesianik, dan Gereja Jemaat Allah Global Indonesia.
Saksi-Saksi Yehuwa juga tidak merayakan Natal.
Ada sejumlah naskah kuno yang mencatat bahwa Yesus
ditempatkan di rahim Maria tanggal 25 Desember. [3] Penafsiran
Kitab Hagai mengindikasikan tanggal itu merupakan tanggal
datangnya Yesus ke dalam rahim Maria, yaitu Hagai 2:18-20 :
“ Perhatikanlah mulai dari hari ini dan
selanjutnya--mulai dari hari yang kedua puluh
empat bulan kesembilan. Mulai dari hari
diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah
apakah benih masih tinggal tersimpan dalam
lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon
ara, pohon delima dan pohon zaitun belum
berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi
berkat!

Tanggal 24 bulan ke-9 (Kislev) dalam kalender Yahudi jatuh
sekitar tanggal 25 Desember dalam kalender Gregorian.
Meskipun kapan Hari Natal jatuh masih menjadi perdebatan,
agama Kristen pada umumnya sepakat untuk menetapkan Hari
Natal jatuh setiap tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian
ini didasari atas kesadaran bahwa penetapan hari raya liturgis lain
seperti Paskah dan Jumat Agung tidak didapat dengan pendekatan
tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan kembali
acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang bukan
mementingkan ketepatan tanggalnya namun esensi atau inti dari
setiap peringatan tersebut untuk dapat diwujudkan dari hari ke
hari.
Tahun
Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang
biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang
kita gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini (Tahun
Tuhan).
Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan
pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang
menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah
tahun ke 15 dari pemerintahan Kaisar Tiberius seperti yang
tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan
olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.
Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang
menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria ) pertama kali
menjalankan program sensus.
Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab
menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus, raja
Herodes meninggal dunia pada tahun 4 SM sehingga
konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus dimundurkan sebanyak
empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar, sebab ia menganalisa
tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat
Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal
13 Maret tahun 4 SM.
Tradisi
Banyak tradisi perayaan Natal di barat yang merupakan
pengembangan kemudian dengan menyerap unsur berbagai
kebudayaan. Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah mungkin
berhubungan dengan tradisi Mesir, atau Ibrani kuno. Ada pula
yang menghubungkannya dengan pohon khusus di taman Eden
(lihat Kejadian 2:9 ). Tetapi dalam kehidupan pra-Kristen Eropa
memang ada tradisi menghias pohon dan menempatkannya dalam
rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Pohon Terang” modern
berkembang dari Jerman pada abad ke-18. [4]
Terdapat pula tradisi mengirim Kartu Natal, yang dimulai pada
tahun 1843 oleh John Callcott Horsley dari Inggris. Biasanya
dengan gambar yang berhubungan dengan kisah kelahiran Yesus
Kristus dan disertai tulisan: Selamat Hari Natal dan Tahun Baru.
Dewasa ini orang memakai teknologi informasi (email) berkirim
kartu Natal elektronik.
Juga dalam rangka perayaan Natal dikenal di Indonesia tradisi
Sinterklaas, yang berasal dari Belanda. Tradisi yang dirayakan
pada tanggal 6 Desember ini, berhubungan dengan St. Claus
(Santa Nikolas), seorang tokoh legenda, yang mengunjungi rumah
anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik
beberapa ekor rusa kutub membagi-bagi hadiah. Dalam dunia
modern, perayaan Natal secara sekuler lebih menekankan aspek
saling memberi hadiah Natal, sehingga ada yang beranggapan
Santa Nikolas makin lebih penting daripada Yesus Kristus. Dalam
tradisi Sinterklass Belanda – tokoh yang digambarkan oleh suatu
iklan minuman Amerika sejak tahun 1931 sebagai seorang tua
gendut, bercambang putih dan berpakain merah dengan sepatu
bot, ikat pinggang hitam, dan topi runcing lembut ini – menjadi
bagian dari acara keluarga (untuk mendisiplin anak-anak) dengan
mengunjungi rumah-rumah disertai pembantu berkulit hitam
(Zwarte Pit) yang memikul karung berisi hadiah untuk anak yang
baik; tetapi karung itu juga tempat anak-anak nakal dimasukkan
untuk dibawa pergi. Yang sering kita lihat juga Natal dimeriahkan
dengan banyak cahaya lampu berkelap-kelip. Selain untuk
menambah semarak perayaan, ini juga memiliki pemahaman
cahaya yang ada, maksudnya adalah Kristus akan mengusir kuasa
kegelapan. [5]
Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di barat, perayaan Natal
ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa,
bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja
Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului
puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan
berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik
puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November.
Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7
Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil
( Shaum el-Shagir ). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara
prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-
gereja Orthodoks lain.
Makna Lilin Dalam Natal
Lilin
Dalam masa Natal , Lilin menggambarkan atau memberikan
gambaran tentang Kristus. [6] Kristus dilambangkan sebagai terang
bagi dunia yang gelap. [6] Di dalam Alkitabpun tertulis tentang
terang, di dalam Perjanjian Lama ,Yesaya 9 : 1-6, “terang yang
besar”, sedangkan di dalam Perjanjian Baru , Yohanes 1 : 1-18,”
terang manusia”. [6]
Bukan hanya di dalam peribadahan saja, di rumah-rumah dan di
toko-toko kerap di hias dengan lampu-lampu yang kelap-kelip, hal
ini muncul sejak zaman patristik sebagai gambaran akan terang
yang mengalahkan kegelapan. [6] Penggunaan lilin dan lampu-
lampu kelap-kelip merupakan pengaruh dari pesta cahaya Yahudi
atau Hanukah. [6] Hari raya Hanukkah dirayakan sekitar masa
Adven dan Natal, dan terkadang sering diplesetkan dengan istilah
Natal Yahudi. [6]
Ekonomi
Natal biasanya merupakan stimulus ekonomi tahunan terbesar di
berbagai negara di dunia. Penjualan barang-barang meningkat
tajam di berbagai area retail, dan pada musim Natal orang-orang
membeli berbagai hadiah, dekorasi, dan persediaan Natal. Industri
yang bergantung pada penjualan di musim Natal antara lain kartu
Natal, pohon Natal , dan lain-lain.
Selain kegiatan ekonomi terbesar, Hari Natal di berbagai negara
Barat merupakan hari paling sepi bagi dunia bisnis; hampir semua
toko retail, institusi bisnis dan komersial tutup, dan hampir semua
industri berhenti beroperasi. Studio-studio film merilis berbagai
film berbiaya tinggi pada musim Natal untuk menghibur orang-
orang, yang sedang berlibur.
Sosial
Selama puasa, jemaat gereja-gereja Koptik, seperti Gereja Koptik
Sayidah el-Adzra’ (Santa Maria), di Madinat al-Tahrir, Imbaba,
Kairo mempunyai kebiasaan hanya makan sekali sehari dengan
menu makanan semacam tempe (dari kacang-kacangan),
namanya tamiya atau falafel yang dimakan dengan sepotong roti
dan air putih. Karena itu, uang belanja yang biasanya mereka
belikan daging dan menu lumayan mewah lainnya dikumpulkan
dan diserahkan langsung kepada orang orang miskin yang
dikoordinasi oleh Gereja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar